Bakteri Dalam Air Susu

Sekalipun pemerahan dilakukan dengan mesin yang kebersihannya dapat dijamin, namun air susu yang 100% bebas mikroorganisme itu jarang atau sama sekali tidak ada. Bakteri yang hampir selalu ada di dalam air susu ialah bakteri penghasil asam susu, bakteri ini kebanyakan dari famili Lactobacteriaceae. Dari famili ini, terutama Streptococcus lactis banyak kedapatan dalam jumlah yang besar. Spesies ini berkembang biak cepat sekali, mudah mengurai laktosa, aktifitasnya tidak begitu besar pada temperatur 37-50 derajad celcius. Sebenarnya dalam menghasilkan asam susu Streptococcus lactis masih kalah dibanding dengan Lactobacillus lactis, akan tetapi jumlahnya yang sangat besar menyebabkan air susu cepat mencapai titik koagulasi, yaitu protein menggumpal.

Beberapa spesies dari famili Micrococcaceae sering kedapatan juga di dalam air susu yang kurang terjaga kebersihannya, spesies ini juga menyebabkan asamya air susu. Dari famili Enterobacteriaceae, terutama Escherichia coli dan Aerobacter aerogenes kerap kali kedapatan juga dalam air susu. Kedua spesies ini dapat mengadakan fermentasi terhadap laktosa. Keduanya menghasilkan karbondioksida, hidrogen dan asam organik. Hal ini tentulah mengganggu mutu air susu. Dalam pembentukan asam, keduanya kalah gita jika dibandingkan dengan Streptococcus lactis.

SAPROBAKTERI

Bakteri yang menghasilkan asam susu pada umumnya dipandang tidak menggangu mutu air susu, akan tetapi bakteri yang menguraikan protein itulah yang mengakibatkan busuknya air susu. Banyak spesies dari genus Proteus, Bacillus, Clostridium, Sarcina memegang peranan dalam pembusukan, lebih-lebih ketiga genus yang pertama. Biasanya pertumbuhan spesies-spesies tersebut dihambat oleh asam susu yang timbul karena kegiatan bakteri lain.

Sering kita jumpai air usu yang berlendir. Benang-benang lendir itu disebabkan oelh bakteri yang berlendir, seperti contoh Alcaligenes viscolactis dan beberapa spesies lain yang biasanya terdapat dalam usus tebal. Meskipun spesies tersebut tidak berbahaya bagi kesehatan, akan tetapi akan meyebabkan orang dengan sendirinya tidak menyukai konsumsi susu segar. Kadang-kadang timbul warna biru dalam air susu, hal ini disebabkan oleh Pseudomonas syncyanea, spesies ini berkembang biak dengan cepat setelah air susu mulai asam. Adakalanya kita jumpai warna merah di dalam air susu, hal ini di sebabkan karena adanya Serratia marcescens atau spesies lain yang sejenis.

BAKTERI PATOGEN

Air susu yang kemasukan bibit penyakit menular mudah sekali menjadi sumber epidemi. Maka perlu adanya pengawasan mengenai kesehatan sapi dan kesehatan setiap orang pekerja yang berhubungan lansung dengan industri pengolahan susu. Tuberkulosis, brusellosis dll adalah penyakit yang disebabkan oleh Micrococcus, Streptococcus mudah sekali menjalarnya dengan perantara air susu yang kemasukan bibit penyakit tersebut. Streptococcus agalactiae dan Streptococcus pyogenes yang kedapatn pada ambing sapi yang menderita mastitis sering menjadi penyebab penyakit tenggorokan pada manusia, dan ternyata spesies-spesies tersebut masuk dalam tubuh manusia melalui air susu yang dikonsumsi.

Mycrobacterium tuberculosis yang berasal dari sapi, dari pemerah atau dari pengantar susu dapat pula menjalar kemana-mana melalui media air susu tersebut. hal ini juga berlaku untuk Brucella abortus dan Brucella melitensis. Selain itu penyakit tipus yang disebabkan oleh Salmonella typhosa, keracunan makanan yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus dapat pula bersumber pada air susu yang kena kontaminasi. Bahaya terjangkit penyakit seperti tersebut diatas dapat dicegah dengan mengadakan pasteurisasi yang cermat terhadap air susu dan diharapkan masak dahulu air susu sebelum dikonsumsi. Pemerintah telah mengupayakan pengamanan mutu susu dengan mengadakan pengawasa terhadap kebersihan kandang, sapi, cara memerah dan menjula air susu.

PEMERIKSAAN MUTU AIR SUSU SECARA BAKTERIOLOGI

Pengujian air susu tidak saja dimaksudkan untuk menentukan baik buruknya air susu, akan tetapi pengujian itu juga dapat memberi keterangan tentang dimana kemungkinan terjadinya kontaminasi di dalam urut-urutan prosedur pengusahaan. Banyaknya bakteri per mililiter pada waktu air susu akan digunakan bergantung pada 3 faktor :

  1. Jumlah bakteri yang masuk dalam air susu pada waktu pemerahan.
  2. Panjang pendeknya waktu berselang antara pemerahan dan penggunaan, waktu itu memberi kesempatan untuk berkembang biaknya bakteri.
  3. Apakah air susu telah di pasteurisasikan lebih dahulu atau belum.

Pengujian itu sebaiknya harus tepat dan cepat, menjamin kesehatan konsumen dan tidak menghambat distribusi.

Diterbitkan di:  on Mei 29, 2008 at 4:59 am Tinggalkan sebuah Komentar

@!*&^%)#+\^?

Untuk yang kesekian kalinya muncul keinginan untuk berteriak dan berlari sejauh mungkin . Ingin rasanya melepas semua beban yang selama ini memenuhi otak. Melepas semua dan bener-bener pasrah akan apa yang telah digariskan olehNya. Tapi di tengah semua kondisi seperti ini masih tersisa keinginan kuat untuk berjuang dan bisikan agar jangan menyerah…. Semua pasti akan ada jalan keluar yang terbaik. Berjuanglah selagi kita mampu dan jangan menyerah oleh keadaan ……

Diterbitkan di:  on Mei 20, 2008 at 5:17 am Tinggalkan sebuah Komentar

sL@M@T m3N3mpUh H1dUp b@Ru

Slamat Menempuh hidup baru kami persembahkan kepada teman seperjuangan kami di Nutrisi ‘00

ESTIYANTI PUJI RAHAYU

dengan

PUJIYANTO

yang telah melaksanakan Sunah Rasul menjadi sebuah keluarga. Pelaksanakan Akah Nikah pada hari Minggu Tanggal 18 Mei 2008 pada Jam 10.00 WIB bertempat di Desa Glayan 007/004 Karang Asem Cawas Klaten. Resepsi dilaksanakan pada hari dan tempat yang sama jam 12.00 WIB. Teriring doa kami seluruh anggota probiotik team semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah….. Amin….. :) Selamat berbahagia buat Mbak Esti dan Suami…………..

Diterbitkan di:  on Mei 18, 2008 at 6:30 am Tinggalkan sebuah Komentar

Alhamdulillah…..

Manusia….. makhluk Allah yang lemah tetapi menjadi makhluk paling sempurna dengan apa yang telah dimiliki dan dikaruniakan oleh-Nya. Tapi sering manusia melupakan akan apa yang telah diberikan oleh pencipta-Nya. Kelebihan-kelebihan yang ada justru akan menjadi sebuah kekurangan bagi manusia itu sendiri. Otak yang sempurna kadang tidak membuat manusia menjadi cerdas untuk berpikir. Fisik yang sempurna juga tidak membuat manusia menjadi mampu berbuat baik untuk dirinya sendiri apalagi untuk makhluk lain. Apa yang telah diraih dan dimiliki tidak akan pernah menjadikan manusia itu puas, tapi itulah manusia walaupun banyak kelemahan ada pada manusia tapi manusia tetap menjadi makhluk paling sempurna, maka dari itu aku berharap semoga aku bisa menjadi makhluk yang berguna walaupun kurang sempurna.

Diterbitkan di:  on Mei 13, 2008 at 4:53 am Tinggalkan sebuah Komentar

sEkREsI aIR sUSu daN ZAt pEnYuSuNnya

Sebagian besar dari zat penting yang ada dalam air susu disintesis dalam kelenjar susu dari ikatan zat yang diserap dari darah. Kelenjar susu menyerap protein tertentu dan zat ini dipindahkan langsung dari darah ke dalam air susu. Mineral yang sebagian besar vitamin juga dipindahkan seperti apa adanya air susu.

· Protein susu

Protein susu mengandung 95% nitrogen air susu dan persentase sisanya terdapat dalam urea, keratin amonia dan senyawa lain yang mengandung nitrogen. Kasein adalah protein terbanyak yang terdapat dalam air susu yaitu menyusun 78% dari nitrogen air susu. Kebanyakan protein air susu disintesis dari asam amino yang diserap dari darah dan ada petunjuk terdapatnya peristiwa interkonversi asam amino dalam kelenjar susu. Bagian kecil albumin dan globulin diserap langsung dari darah ke dalam air susu.

· Laktose

Laktose air susu disintesis dari glukosa darah. Laktose adalah suatu disakarida mengandung glukosa dan galaktosa dan kadarnya dalam air susu tergantung dari spesies hewan itu sendiri.

· Lemak

Lemak susu adalah campuran trigliserida yang mengandung asam lemak jenuh dan tak jenuh. Komposisi lemak pada hewan adalah spesifik, namun pada umumnya lemak susu pada ruminansia mengandung proporsi asam lemak jenuh bermolekul rendah lebih tinggi, terutama asam butirat. Gliserol dari lemak susu diserap langsung dari darah ke dalam air susu dan beberapa disintesa dalam kelenjar susu dari glukosa darah. Pada ternak non ruminansia banyak asam lemak disintesa dalam kelanjar susu dari glukosa dan asam asetat darah sedangkan pada ternak ruminansia asam asetat dan asam beta hidroksi butirat darah digunakan untuk mensintesa sebagian terbesar asam-asam lemak.

· Mineral

Diserap langsung dari darah, namun kelenjar susu sangat selektif dalam proses penyerapan mineral ini dan tidak menyerap selenium dan fluor sehingga unsur tersebut tidak terdapat dalam, air susu.

· Vitamin

Vitamin air susu tidak disintesa dalam kelenjar susu tetapi diserap langsung dari darah.

Sumber : Tillman, A.D. Ilmu Makanan Ternak Dasar

Diterbitkan di:  on Mei 5, 2008 at 3:58 am Tinggalkan sebuah Komentar

MeTabOLismE KaRbOhiDrAt PadA RumInANsIa

Ada 2 macam proses yang sangat essensial untuk kehidupan yaitu

1. asimilasi bahan makanan.

2. pembuangan hasil sisa makanan yang tidak berguna.

Bahan makanan terdiri dari unit kimiawi yang kompleks seperti protein dan lemak. Hasil sisa makanan adalah zat-zat sederhana seperti karbondioksida dan air jumlah dari perubahan yang dialami bahan makanan dalam konversinya sampai kepada hasil sisa disebut metabolisme. Istilah tersebut digunakan untuk perubahan yang terjadi pada bahan makanan yang telah diserap dan berkaitan dengan perombakan jaringa-jaringan tubuh atau sering disebut metabolisme antara.

PENCERNAAN KARBOHIDRAT

Pencernaan karbohidrat dimulai di mulut, dimana bahan makanan bercampur dengan ptialin, yaitu enzim yang dihasilkan oleh kelenjar saliva (saliva hewan ruminansia sama sekali tidak mengandung ptyalin). Ptialin mencerna pati menjadi maltosa dan dekstrin. Pencernaan tersebut sebagian besar terjadi di mulut dan lambung. Mucin dalam saliva tidak mencerna pati, tetapi melumasi bahan makanan sehingga dengan demikian bahan makanan mudah untuk ditelan.

Mikroorganisme dalam rumen merombak selulosa untuk membentuk asam-asam lemak terbang. Mikroorganisme tersebut mencerna pula pati, gula, lemak, protein dan nitrogen bukan protein untuk membentuk protein mikrobial dan vitamin B. Tidak ada enzim dari sekresi lambung ruminansia tersangkut dalam sintesis mikrobial.

Amylase dari pankreas dikeluarkan ke dalam bagian pertama usus halus (duodenum) yan kemudian terus mencerna pati dan dekstrin menjadi dekstrin sederhana dan maltosa. Enzim-enzim lain dalam usus halus yang berasal dari getah usus mencerna pula karbohidrat. Enzim-enzim tersebut adalah

1. sukrase (invertase) yang merombak sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa.

2. maltase yang merombak maltosa menjadi glukosa

3. laktase yang merombak laktosa menjadi glukosa dan galaktosa.

Mikroorganisme dalam caecum dan colon mencerna pula selulosa menjadi asam-asam lemak terbang. Enzim yang dikeluarkan oleh tractus digestivus hewan tidak turut campur dalam pencernaan selulosa tersebut di atas yang dilakukan oleh mikroorganisme caecum dan colon.

PENCERNAAN MIKROBIAL TERHADAP KARBOHIDRAT

Enzim yang dihasilkan tractus digestivus tidak sanggup mencerna selulosa dan pentosan, zat-zat membentuk dinding sel tumbuhan dan merupakan sebagian besar bahan pada jerami. Akan tetapi zat-zat tersebut dicerna oleh bakteri dalam tiga bagian pertama dari lambung hewan ruminansia, di dalam caecum dan colon kuda dan sejumlah kecil di dalam usu besar hewan lain. Jumlah bakteri dalam isi rumen adalah banyak sekali. Bakteri tersebut merombak selulosa dan pentosan ke dalam asam-asam organik (terutama asetat) dan kemungkinan dalam jumlah kecil ke dalam gula sederhana. Dalam proses tersebut terbentuk terbentuklah gas (karbondioksida dan metana) dan panas.

Asam-asam organik merupakan makanan bagi hewan, sama halnya seperti gula, akan tetapi gas yang terbentuk tidak ada nilainya. Panas yang di timbulkan tidak digunakan, kecuali bila hewan memerlukan panas tersebut untuk menjaga suhu normal tubuhnya. Hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa penyerapan zat-zat makanan yang larut seperti asam-asam organik dapat berlangsung dari lambung hewan ruminansia, akan tetapi sebagian besar dari penyerapan terjadi dari usus halus.

Kesanggupan hewan ternak untuk menggunakan serat kasar dan pentosan dalam makanan tergantung pada kecernaan bakteri. Hal ini merupakan suatu kejadian yang penting dalam makanan sapi dan domba dan merupakan alasan utama mengapa hewan tersebut dapat hidup terutama dari jerami. Dinding sel yang beserat tidak hanya digunakan untuk makanan, tetapi dengan pencernaan tadi zat makanan yang terdapat di dalam menjadi bebas, dengan demikian akan menjadi lebih mudah dicerna oleh getah pencernaan di dalam lambung dan dalam usus. lignin dalam makanan hanya dicerna dalam jumlah sedikit.

Zat-zat asam dan gas yang terbentuk akibat bekerjanya mikroorgaisme dalam rumen merupakan hasil akhir berbagai reaksi antara. Seslulosa, pentosan dan pati dihidrolisis menjadi monosakarida kemudian difermentasi. Banyaknya asam yang terbentuk bervariasi tergantung macam ransum yang diberikan, adanya organisme dan faktor yang lainnya.asam asetat merupakan 2/3 sampai ¾ atau lebih dari jumlah seluruhnya. Menyusul berturut-turut asam propionate dan asam butirat. Asam volatile yang ada dalam rumen tidak semuanya berasal dari fermentasi karbohidrat, Karena sebagian berasal dari hasil kerja mikroorganisme terhadap protein atau ikatan lainnya yang mengandung nitrogen. Asam-asam tersebut masuk dalam abomasums mengalami pencernaan dan masuk ke dalam usus kemudian diserap masuk peredaran darah. Setelah diserap akan diubah menjadi energi, lemak, karbohidrat dan hasil lainnya yang dibutuhkan tubuh.

Dari bagian-bagian berserat pada bahan makanan ligninlah yang paling tahan terhadap serangan mikroorganisme sehingga hanya sedikit sekali yang dapat dicerna. Selulosa lebih banyak dapat dirombak dan hemiselulosa yang paling dapat dicerna. Pati dan gula siap diubah menjadi asam dan gas.

Sumber : Tillman, A.D. Ilmu Makanan Ternak Dasar

Diterbitkan di:  on Mei 1, 2008 at 5:55 am Tinggalkan sebuah Komentar