Manfaat Probiotik pada Ayam

Probioti yang diproses dari bahan alami menggunakan kandungan lokal asli Indonesia itu mengandung unsur mikro dan makro, asam amino dan pembentuk antibodi atau antibiotik alami. Bukan saja produk tersebut akan mendongkrak produktifitas ayam, tetapi juga kualitas daging dan telur serta menekan sangat rendah kandungan residu bahan-bahan kemikalia.

Mekanismenya menjaga pH di saluran pencernaan dengan meningkatkan enzim pencernaan dan menghambat bakteri pencernaan yang patogenik. Dengan pemakaian yang sesuai dengan rekomendasi akan membantu unggas tumbuh secara optimal dan sehat karena kandungan amoniak dalam kotoran di tekan sekecil mungkin dan juga serangga pengganggu seperti lalat maupun nyamuk tidak mampu berkembang di kotoran.

Sudah terbukti nyata di daerah Purworejo dan Kulon Progo kasus Kolibalosis dapat dicegah dengan probiotik jenis ini karenan mampu menekan  pertumbuhan bakteri E. coli dan sejenisnya tumbuh berkembang biak di sumber air minum.

Adalagi hasil bukti lapangan dari manfaat probiotik bahwa dengan dosis sangat ekonomis, telah mampu menggenjot produktifitas ayam petelur maupun pedaging. Banyak fakta di lapangan bahwa hasil akhir berupa efisiensi penggunaan pakan dan vitamin.  Dengan pengaruh yang mampu  menekan konsumsi pakan maka dengan sendirinya  akan mengurangi ongkos produksi yang merupakan komponen yang sangat berpengaruh dalam  usaha peternakan.

Selain itu yang sangat dirasakan adalah ayam menjadi lebih sehat, nafsu makan meningkat sesuai dengan kenaikan berat badannya serta tingginya ratio keberhasilan berbagai program vaksinasi. Tentang hal ini untuk keberhasilan vaksinasi adalah ayam harus benar-benar sehat.

Diterbitkan di:  on Agustus 11, 2008 at 3:22 am Tinggalkan sebuah Komentar

Bakteri Dalam Air Susu

Sekalipun pemerahan dilakukan dengan mesin yang kebersihannya dapat dijamin, namun air susu yang 100% bebas mikroorganisme itu jarang atau sama sekali tidak ada. Bakteri yang hampir selalu ada di dalam air susu ialah bakteri penghasil asam susu, bakteri ini kebanyakan dari famili Lactobacteriaceae. Dari famili ini, terutama Streptococcus lactis banyak kedapatan dalam jumlah yang besar. Spesies ini berkembang biak cepat sekali, mudah mengurai laktosa, aktifitasnya tidak begitu besar pada temperatur 37-50 derajad celcius. Sebenarnya dalam menghasilkan asam susu Streptococcus lactis masih kalah dibanding dengan Lactobacillus lactis, akan tetapi jumlahnya yang sangat besar menyebabkan air susu cepat mencapai titik koagulasi, yaitu protein menggumpal.

Beberapa spesies dari famili Micrococcaceae sering kedapatan juga di dalam air susu yang kurang terjaga kebersihannya, spesies ini juga menyebabkan asamya air susu. Dari famili Enterobacteriaceae, terutama Escherichia coli dan Aerobacter aerogenes kerap kali kedapatan juga dalam air susu. Kedua spesies ini dapat mengadakan fermentasi terhadap laktosa. Keduanya menghasilkan karbondioksida, hidrogen dan asam organik. Hal ini tentulah mengganggu mutu air susu. Dalam pembentukan asam, keduanya kalah gita jika dibandingkan dengan Streptococcus lactis.

SAPROBAKTERI

Bakteri yang menghasilkan asam susu pada umumnya dipandang tidak menggangu mutu air susu, akan tetapi bakteri yang menguraikan protein itulah yang mengakibatkan busuknya air susu. Banyak spesies dari genus Proteus, Bacillus, Clostridium, Sarcina memegang peranan dalam pembusukan, lebih-lebih ketiga genus yang pertama. Biasanya pertumbuhan spesies-spesies tersebut dihambat oleh asam susu yang timbul karena kegiatan bakteri lain.

Sering kita jumpai air usu yang berlendir. Benang-benang lendir itu disebabkan oelh bakteri yang berlendir, seperti contoh Alcaligenes viscolactis dan beberapa spesies lain yang biasanya terdapat dalam usus tebal. Meskipun spesies tersebut tidak berbahaya bagi kesehatan, akan tetapi akan meyebabkan orang dengan sendirinya tidak menyukai konsumsi susu segar. Kadang-kadang timbul warna biru dalam air susu, hal ini disebabkan oleh Pseudomonas syncyanea, spesies ini berkembang biak dengan cepat setelah air susu mulai asam. Adakalanya kita jumpai warna merah di dalam air susu, hal ini di sebabkan karena adanya Serratia marcescens atau spesies lain yang sejenis.

BAKTERI PATOGEN

Air susu yang kemasukan bibit penyakit menular mudah sekali menjadi sumber epidemi. Maka perlu adanya pengawasan mengenai kesehatan sapi dan kesehatan setiap orang pekerja yang berhubungan lansung dengan industri pengolahan susu. Tuberkulosis, brusellosis dll adalah penyakit yang disebabkan oleh Micrococcus, Streptococcus mudah sekali menjalarnya dengan perantara air susu yang kemasukan bibit penyakit tersebut. Streptococcus agalactiae dan Streptococcus pyogenes yang kedapatn pada ambing sapi yang menderita mastitis sering menjadi penyebab penyakit tenggorokan pada manusia, dan ternyata spesies-spesies tersebut masuk dalam tubuh manusia melalui air susu yang dikonsumsi.

Mycrobacterium tuberculosis yang berasal dari sapi, dari pemerah atau dari pengantar susu dapat pula menjalar kemana-mana melalui media air susu tersebut. hal ini juga berlaku untuk Brucella abortus dan Brucella melitensis. Selain itu penyakit tipus yang disebabkan oleh Salmonella typhosa, keracunan makanan yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus dapat pula bersumber pada air susu yang kena kontaminasi. Bahaya terjangkit penyakit seperti tersebut diatas dapat dicegah dengan mengadakan pasteurisasi yang cermat terhadap air susu dan diharapkan masak dahulu air susu sebelum dikonsumsi. Pemerintah telah mengupayakan pengamanan mutu susu dengan mengadakan pengawasa terhadap kebersihan kandang, sapi, cara memerah dan menjula air susu.

PEMERIKSAAN MUTU AIR SUSU SECARA BAKTERIOLOGI

Pengujian air susu tidak saja dimaksudkan untuk menentukan baik buruknya air susu, akan tetapi pengujian itu juga dapat memberi keterangan tentang dimana kemungkinan terjadinya kontaminasi di dalam urut-urutan prosedur pengusahaan. Banyaknya bakteri per mililiter pada waktu air susu akan digunakan bergantung pada 3 faktor :

  1. Jumlah bakteri yang masuk dalam air susu pada waktu pemerahan.
  2. Panjang pendeknya waktu berselang antara pemerahan dan penggunaan, waktu itu memberi kesempatan untuk berkembang biaknya bakteri.
  3. Apakah air susu telah di pasteurisasikan lebih dahulu atau belum.

Pengujian itu sebaiknya harus tepat dan cepat, menjamin kesehatan konsumen dan tidak menghambat distribusi.

Diterbitkan di:  on Mei 29, 2008 at 4:59 am Tinggalkan sebuah Komentar

sEkREsI aIR sUSu daN ZAt pEnYuSuNnya

Sebagian besar dari zat penting yang ada dalam air susu disintesis dalam kelenjar susu dari ikatan zat yang diserap dari darah. Kelenjar susu menyerap protein tertentu dan zat ini dipindahkan langsung dari darah ke dalam air susu. Mineral yang sebagian besar vitamin juga dipindahkan seperti apa adanya air susu.

· Protein susu

Protein susu mengandung 95% nitrogen air susu dan persentase sisanya terdapat dalam urea, keratin amonia dan senyawa lain yang mengandung nitrogen. Kasein adalah protein terbanyak yang terdapat dalam air susu yaitu menyusun 78% dari nitrogen air susu. Kebanyakan protein air susu disintesis dari asam amino yang diserap dari darah dan ada petunjuk terdapatnya peristiwa interkonversi asam amino dalam kelenjar susu. Bagian kecil albumin dan globulin diserap langsung dari darah ke dalam air susu.

· Laktose

Laktose air susu disintesis dari glukosa darah. Laktose adalah suatu disakarida mengandung glukosa dan galaktosa dan kadarnya dalam air susu tergantung dari spesies hewan itu sendiri.

· Lemak

Lemak susu adalah campuran trigliserida yang mengandung asam lemak jenuh dan tak jenuh. Komposisi lemak pada hewan adalah spesifik, namun pada umumnya lemak susu pada ruminansia mengandung proporsi asam lemak jenuh bermolekul rendah lebih tinggi, terutama asam butirat. Gliserol dari lemak susu diserap langsung dari darah ke dalam air susu dan beberapa disintesa dalam kelenjar susu dari glukosa darah. Pada ternak non ruminansia banyak asam lemak disintesa dalam kelanjar susu dari glukosa dan asam asetat darah sedangkan pada ternak ruminansia asam asetat dan asam beta hidroksi butirat darah digunakan untuk mensintesa sebagian terbesar asam-asam lemak.

· Mineral

Diserap langsung dari darah, namun kelenjar susu sangat selektif dalam proses penyerapan mineral ini dan tidak menyerap selenium dan fluor sehingga unsur tersebut tidak terdapat dalam, air susu.

· Vitamin

Vitamin air susu tidak disintesa dalam kelenjar susu tetapi diserap langsung dari darah.

Sumber : Tillman, A.D. Ilmu Makanan Ternak Dasar

Diterbitkan di:  on Mei 5, 2008 at 3:58 am Tinggalkan sebuah Komentar

MeTabOLismE KaRbOhiDrAt PadA RumInANsIa

Ada 2 macam proses yang sangat essensial untuk kehidupan yaitu

1. asimilasi bahan makanan.

2. pembuangan hasil sisa makanan yang tidak berguna.

Bahan makanan terdiri dari unit kimiawi yang kompleks seperti protein dan lemak. Hasil sisa makanan adalah zat-zat sederhana seperti karbondioksida dan air jumlah dari perubahan yang dialami bahan makanan dalam konversinya sampai kepada hasil sisa disebut metabolisme. Istilah tersebut digunakan untuk perubahan yang terjadi pada bahan makanan yang telah diserap dan berkaitan dengan perombakan jaringa-jaringan tubuh atau sering disebut metabolisme antara.

PENCERNAAN KARBOHIDRAT

Pencernaan karbohidrat dimulai di mulut, dimana bahan makanan bercampur dengan ptialin, yaitu enzim yang dihasilkan oleh kelenjar saliva (saliva hewan ruminansia sama sekali tidak mengandung ptyalin). Ptialin mencerna pati menjadi maltosa dan dekstrin. Pencernaan tersebut sebagian besar terjadi di mulut dan lambung. Mucin dalam saliva tidak mencerna pati, tetapi melumasi bahan makanan sehingga dengan demikian bahan makanan mudah untuk ditelan.

Mikroorganisme dalam rumen merombak selulosa untuk membentuk asam-asam lemak terbang. Mikroorganisme tersebut mencerna pula pati, gula, lemak, protein dan nitrogen bukan protein untuk membentuk protein mikrobial dan vitamin B. Tidak ada enzim dari sekresi lambung ruminansia tersangkut dalam sintesis mikrobial.

Amylase dari pankreas dikeluarkan ke dalam bagian pertama usus halus (duodenum) yan kemudian terus mencerna pati dan dekstrin menjadi dekstrin sederhana dan maltosa. Enzim-enzim lain dalam usus halus yang berasal dari getah usus mencerna pula karbohidrat. Enzim-enzim tersebut adalah

1. sukrase (invertase) yang merombak sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa.

2. maltase yang merombak maltosa menjadi glukosa

3. laktase yang merombak laktosa menjadi glukosa dan galaktosa.

Mikroorganisme dalam caecum dan colon mencerna pula selulosa menjadi asam-asam lemak terbang. Enzim yang dikeluarkan oleh tractus digestivus hewan tidak turut campur dalam pencernaan selulosa tersebut di atas yang dilakukan oleh mikroorganisme caecum dan colon.

PENCERNAAN MIKROBIAL TERHADAP KARBOHIDRAT

Enzim yang dihasilkan tractus digestivus tidak sanggup mencerna selulosa dan pentosan, zat-zat membentuk dinding sel tumbuhan dan merupakan sebagian besar bahan pada jerami. Akan tetapi zat-zat tersebut dicerna oleh bakteri dalam tiga bagian pertama dari lambung hewan ruminansia, di dalam caecum dan colon kuda dan sejumlah kecil di dalam usu besar hewan lain. Jumlah bakteri dalam isi rumen adalah banyak sekali. Bakteri tersebut merombak selulosa dan pentosan ke dalam asam-asam organik (terutama asetat) dan kemungkinan dalam jumlah kecil ke dalam gula sederhana. Dalam proses tersebut terbentuk terbentuklah gas (karbondioksida dan metana) dan panas.

Asam-asam organik merupakan makanan bagi hewan, sama halnya seperti gula, akan tetapi gas yang terbentuk tidak ada nilainya. Panas yang di timbulkan tidak digunakan, kecuali bila hewan memerlukan panas tersebut untuk menjaga suhu normal tubuhnya. Hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa penyerapan zat-zat makanan yang larut seperti asam-asam organik dapat berlangsung dari lambung hewan ruminansia, akan tetapi sebagian besar dari penyerapan terjadi dari usus halus.

Kesanggupan hewan ternak untuk menggunakan serat kasar dan pentosan dalam makanan tergantung pada kecernaan bakteri. Hal ini merupakan suatu kejadian yang penting dalam makanan sapi dan domba dan merupakan alasan utama mengapa hewan tersebut dapat hidup terutama dari jerami. Dinding sel yang beserat tidak hanya digunakan untuk makanan, tetapi dengan pencernaan tadi zat makanan yang terdapat di dalam menjadi bebas, dengan demikian akan menjadi lebih mudah dicerna oleh getah pencernaan di dalam lambung dan dalam usus. lignin dalam makanan hanya dicerna dalam jumlah sedikit.

Zat-zat asam dan gas yang terbentuk akibat bekerjanya mikroorgaisme dalam rumen merupakan hasil akhir berbagai reaksi antara. Seslulosa, pentosan dan pati dihidrolisis menjadi monosakarida kemudian difermentasi. Banyaknya asam yang terbentuk bervariasi tergantung macam ransum yang diberikan, adanya organisme dan faktor yang lainnya.asam asetat merupakan 2/3 sampai ¾ atau lebih dari jumlah seluruhnya. Menyusul berturut-turut asam propionate dan asam butirat. Asam volatile yang ada dalam rumen tidak semuanya berasal dari fermentasi karbohidrat, Karena sebagian berasal dari hasil kerja mikroorganisme terhadap protein atau ikatan lainnya yang mengandung nitrogen. Asam-asam tersebut masuk dalam abomasums mengalami pencernaan dan masuk ke dalam usus kemudian diserap masuk peredaran darah. Setelah diserap akan diubah menjadi energi, lemak, karbohidrat dan hasil lainnya yang dibutuhkan tubuh.

Dari bagian-bagian berserat pada bahan makanan ligninlah yang paling tahan terhadap serangan mikroorganisme sehingga hanya sedikit sekali yang dapat dicerna. Selulosa lebih banyak dapat dirombak dan hemiselulosa yang paling dapat dicerna. Pati dan gula siap diubah menjadi asam dan gas.

Sumber : Tillman, A.D. Ilmu Makanan Ternak Dasar

Diterbitkan di:  on Mei 1, 2008 at 5:55 am Tinggalkan sebuah Komentar

Ubi…ubi…. dan ubi….

Mahalnya komoditas beras akhir-akhir ini sangat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, walaupun pembangunan ketahanan pangan telah dirintis sejak lama. Semakin meningkatnya harga semua kebutuhan pokok (tidak hanya beras) menyebabkan kita harus berpikir untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Bukan saatnya lagi untuk mencari siapa yang salah dan siap yang perlu bertanggungjawab dalam hal ini, tapi akan lebih bermanfaat jika kita secara bersama-sama mencari solusi yang terbaik untuk keluar dari masalah tersebut.

Salah satu komoditi pangan yang terhitung sangat besar di Indonesia adalah umbi-umbian. Selain jumlah produksinya yang banyak, jenis umbi-umbian mempunyai kandungan gizi yang cukup baik untuk menggantikan beras sebagai bahan makanan pokok. Ubi kaya akan kandungan prebiotik, serat dan antioksidan. Salah satu jenis umbi-umbian yang paling terkenal adalah ubi jalar.

Keterangan
Sumber : Direktorat Gizi Depkes RI, 1981, Suismono, 1995)

Ubi jalar merupakan komoditi pangan penting di Indonesia yang dapat diolah menjadi aneka makanan dan diusahakan penduduk mulai dari daerah dataran rendah sampai dataran tinggi. Ubi jalar mempunyai kandungan gizi Tanaman ini mampu beradaptasi di daerah yang kurang subur dan kering. Dengan demikian tanaman ini dapat diusahakan sepanjang tahun.
Dalam hal ini sasaran yang ingin dicapai adalah meningkatkan nilai tambah, mengembangkan usaha-usaha pengolahan hasil pertanian, mengurangi kehilangan pasca panen dan berkembangnya industri-industri penunjang pertanian (Hanani : 2003).
Ubi jalar atau ketela rambat atau “sweet potato” diduga berasal dari benua Amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi jalar adalah Selandia Baru, Polinesia dan Amerika bagian tengah. Ubi jalar mulai menyebar ke seluruh dunia, terutama Negara-negara beriklim tropika pada abad ke-16. Orang-orang Spanyol menyebarkan ubi jalar ke kawasan Asia, terutama Filipina, Jepang dan Indonesia. Di beberapa daerah tertentu, ubi jalar merupakan salah satu komoditi bahan makanan pokok
Ubi jalar dapat diolah menjadi berbagai bentuk atau berbagai macam produk olahan. Beberapa peluang penganeka-ragaman jenis penggunaan ubi jalar menjadi bahan olahan adalah :
1. Daun : sayuran, pakan ternak
2. Batang : bahan tanam, pakan ternak
3. Kulit ubi : pakan ternak
4. ubi segar : bahan makanan
5. Tepung : makanan
6. Pati : dermentasi, pakan ternak, asam sitrat

Salah satu hasil proses pengolahan ubi yang mudah dan bisa berguna bagi masyarakat adalah dibuat tepung ubi. Adapun proses pembuatan tepung ubi adalah sebagai berikut…….

Alat dan Bahan
Alat : Pisau dan telenan, Ember, Pengering, Penggiling
Bahan : Ubi jalar, Air

Cara Kerja :
1. Pengupasan
2. Pencucian
3. Pengirisan
4. Penjemuran
5. Penggilingan

Hasil
Umbi dikupas, kemudian dicuci sampai bersih dan diiris, bentuk irisan ada yang bunder dan ada yang persegi. Ubi jalar yang sudah diiris ditaruh dalam tampah kenudian dijemur. Dalam pelaksanaan penjemuran ini, berhubungan cuaca yang sering hujan, maka penjemuran irisan ubi jalar mengalami hambatan dalam proses pengeringan dan terkena jamur, sehingga tidak layak untuk dijadikan tepung.
Perlu diingat untuk pembuatan tepung, apabila dalam proses pengeringan cuaca sering hujan maka proses pengeringan akan semakin lambat dan mudah terkena jamur.

Kesimpulan
Dalam proses pengolahan hasil, faktor cuaca sangat menentukan dan membantu sekali dalam keberhasilan pengolahannya. Untuk mengatasinya perlu penggunaan alat-alat pengering, agar faktor alam tidak menjadi masalah dalam proses pengolahan.
Sumber: adanikid.blogspot.com

Diterbitkan di:  on April 25, 2008 at 4:35 am Tinggalkan sebuah Komentar

Susu Kambing

Kambing Penghasil Susu

Jenis-jenis kambing penghasil susu

1. Kambing Etawa
Berasal dari wilayah Jamnapari India. Kambing ini paling popular di Asia Tenggara, termasuk tipe dwiguna yaitu penghasil susu dan penghasil daging. Ciri-cirinya postur tubuh besar, telinga panjang menggantung, bentuk muka cembung, bulu bagian paha sangat lebat, BB jantan mencapai 90 kg, BB betina 60 kg. produksi susu mencapai 235 kg/ms laktasi. Di Indonesia untuk perbaikan mutu kambing local maka menghasilkan kambing PE (Peranakan Etawa). Sentra terbesar kambing PE adalah di Kaligesing Purworejo Jawa Tengah.
2. Kambing Alpin
Berasal dari Pegunungan Alpen Swiss, Keberadaan kambing jenis ini menebar ke seluruh daratan eropa. Ciri-ciri kambing Alpen telinga berukuran sedang dan megarah ke atas dengan warna bulu dominan putih, hitam, coklat. BB jantan mencapai 90 kg, BB betina 65 kg. Produksi susu 600 kg/ms laktasi
3. Kambing Saanen
Berasal dari lembah Saanen Swiss bagian barat. Merupakan jenis kambing terbesar di Swiss.Sulit berkembang di wilayah tropis karena kepekaannya terhadap matahari. Ciri-ciri telinga tegak dan mengarah ke depan, bulu dominant putih, kadang2 ditemui bercak hitam pada hidung, telinga atau ambing. Tidak bertanduk dan termasuk tipe dwiguna. Produksi susu 740 kg/ms laktasi.
4. Kambing Toggenburg
Berasal dari Toggenburg Valley (wilayah timur laut Swiss). Ciri-ciri telinga tegak menghadap ke depan, hidung agak cembung, warna bulu merah tua/coklat dengan bercak putih. BB jantan 80 kg betina 60 kg. Yang paling menonjol adalah kehalusan bulunya. Produksi susu 600 kg/ms laktasi.
5. Kambing Anglo Nubian
Berasal dari Wilayah Nubia (Timur Laut Afrika). Ciri-ciri telinga menggantung dan ambing besar, warna bulu hitam, merah, coklat, putih atau kombinasi warna2 tersebut. BB jantan 90 kg, betina 70 kg. Produksi susu 700 kg/ms laktasi.
6. Kambing Beetal
Berasal dari Punjab India, Rawalpindi dan Lahore (Pakistan). Diduga merupakan hasil persilangan antara kambing Etawa dengan kambing local karena cirri fisiknya sangat menyerupai Etawa. Produksi susu 190 kg/ms laktasi.

Manfaat dan Khasiat susu kambing

Selain dijual dalam bentuk segar, susu kambing juga dapat diolah menjadi produk lain seperti yogurt, keju, mentega. Butiran lemak susu kambing berukuran antara 1-10 milimikron sama dengan susu sapi, tetapi jumlah butiran lemak yang berdiameter kecil dan homogen lebih banyak terdapat pada susu kambing sehingga susu kambing lebih mudah dicerna alat pencernaan manusia, serta tidak menimbulkan diare pada orang yang mengkonsumsinya.. Susu kambing juga tidak mengandung karoten, sehingga warna susu kambing lebih putih daripada susu sapi.
Khasiat susu kambing antara lain untuk terapi TBC, membantu memulihkan kondisi orang yang baru sembuh dari sakit, mempu mengontrol kadar kolesterol dalam darah. Untuk meningkatkan kesehatan kulit, terutama bagian wajah. Kandungan gizi susu kambing dapat meningkatkan pertumbuhan bayi dan anak-anak serta membantu keseimbangan proses metabolisme, mendukung pertumbuhan tulang dan gigi, membantu pembentukan sel darah merah dan jaringan tubuh. Baik bagi wanita dewasa untuk mengembalikan zat besi setelah haid, kekurangan darah (anemia), kehamilan serta pendarahan setelah melahirkan. Kandungan mineralnya memperlambat proses osteoporosis.



Faktor yang mempengaruhi komposisi susu kambing

1. Variasi antar jenis kambing
Dengan aneka karakteristik yang berbeda satu dengan lainnya maka akan terdapat variasi dalam jumlah produksi susunya.
2. Variasi Inter jenis kambing
Setiap indivudi dari jenis/bangsa yang sama memiliki variasi dalam jumlah susu yang dihasilkan walopun jenis atau bangsa sama, tetapi jika umur dan masa laktasi berbeda maka jumlah produksi susu juga berbeda.
3. Faktor genetik
Adalah faktor yang diturunkan dari nenek moyang dan memiliki sifat kebakaan.
4. Musim
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kambing yang beranak pada musim gugur memiliki tingkat produksi yang lebih tinggi disbanding kambing yang beranak musim panas.
5. Umur
Produksi susu kambing meningkat seiring bertambahnya umur dan mencapai puncak pada saat berumur 5-7 tahun, yakni pada masa laktasi ke-3 atau ke-5. selanjutnya produksi susu akan menurun.
6. Lama masa laktasi
Dalam satu jenis atau bangsa kambing perbedaan lama masa laktasi menyebabkan perbedaan jumlah total produksi susu selama masa laktasi. Semakin lama masa laktasi akan semakin banyak total produksi susu yang dihasilkan. Korelasi ini tidak berarti akan semakin tinggi keuntungan yang diraih.
7. Faktor perawatan dan perlakuan
Suasana kandang yang nyamn sangat mendukung utnuk berproduksi secara optimal.
8. Pengaruh masa birahi dan kebuntingan
Kambing yang dikawinkan kembali setelah 3 bulan beranan tingkat produksi susunya akan lebih cepat menurun disbanding kambing yang sedang laktasi tetapi tidak bunting. Hal ini kemungkinan disebabkan kurangnya kuantitas dan kualitas pakan yang dikonsumsi, serta tingginya kebutuhan kambing akan zat-zat makanan utnuk mendukung [proses fisiologis dalam tubuhnya.
9. Frekuensi pemerahan
Berdasar hasil penelitian kambing yang diperah 2x sehari total produksi susunya lebih tinggi daripada kambing yang diperah 1x sehari.
10. Jumlah anak dalam sekali melahirkan.
Produksi susu kambing perah yang beranak 2 ekor dalam 1 kali melahirkan biasanya 20-30% lebih tinggi dari kambing perah yang hanya beranak 1 ekor.penyebabnya adalah rangsangan menyusui dari anak kambing (cempe) yang dilahirkan
11. Pergantian pemerah
Kambing ternmasuk hewan yang tidak terlalu mudah beradaptasi pada kondisi lingkungan yang berubah drastic. Pergantian pemerah akan menyebabkan kambing mengalami stress.
12. Lama masa kering
Utnutk mendorong produksi beranak 3x dalam 2 tahun biasanya kambing dikawinkan kembali setelah beranak 3 bulan atau saat pertama birahi muncul. Dalam kondisi demikian kambing membutuhkan waktu untuk menjalani masa kering selama 2 bulan agar memiliki kesempatan untuk kembali pulih kondisinya.
13. Faktor hormonal
Hormone yang berperan dalam produksi susu adalah laktogen.penyuntikan hormone ini pada saat laktasi menyebabkan produksi susu meningkat.
14. Faktor pakan
Produksi susu akan mencapai optimal jika pakan yang diberikan dan dikonsumdi oleh kambing jumlah dan kualitasnya cukup. Komposisi hijauan dan konsentrat harus seimbang.
15. Pengaruh penyakit
Kambing perah yang sedang laktasi produksi susunya akan menurunjik terserang penyakit. Bahkan bisa langsung terhenti. Efek obat yang diberikan juga akan berpengaruh terhadap produksi dan kualitas susu yang dihasilkan.

Pemberian pakan

Secara alamiah kerena kehidupan awalnya di daerah pegunungan kambing akan lebih menyukai rambanan (daun-daunan) daripada rumput. Kambing termasuk jenis jewan ruminansia. Ruminansia tidak terlalu bergantung pada kadar zat-zat gizi pakan yang dikonsumsinya, karena proses di dalam rumen mampu menghasilkan zat gizi yang mudah diserap tubuh. Kadang pemberian pakan protein tinggi tidak efisien, karena protein tersebut mudah terurai dan terfermentasi oleh mikrobia rumen.
Ruminansia mampu mensintesis asam amino dari unsure yang dihasilkan oleh berbagai proses yang terjadi dalam rumen. Ruminansia mampu mengkonsumsi urea dlam jumlah terbatas yang di dalam rumen akan terurai menjadi amoniak dan merupakan bahan utama pembentuk asam amino. Selain bahan pakan yang dikonsumsi kebutuhan tubuh terhadap protein juga dipenuhi dari mikrobia rumen.

1 Bahan pakan

Secara umum kebutuhan zat pakan bagi kam,bing dikelompokkan dalam 2 golongan besar sumber pakan yaitu bahan pakan sumber energi dan bahan pakan sumber protein.
Bahan pakan sumber energi terdiri dari bahan pakan yang berupa biji-bijian dan sisa serealia (mis : tepung, jagung dan dedak padi), umbi- umbian (mis : tepung singkong, onggok, ubi jalar) dan hijauan (mis : rumput setaria dan rumput lapang). Bahan pakan sumber protein bisa berupa biji-bijian misal tepung bungkil kedelai, ampas tahu, ampas kecap, biji kapas atau tepung2 yang berasal dari hewan atau bagian tubuh hewan seperti tepung darah dan tepung ikan. Beberapa contoh hijauan yang merupakan sumber protein seperti daun gliricidae, turi, lamtoro, centrocema, dan kacang gude.
Pakan hijauan dalam keadaan segar umumnya lebih disukai kambing dibanding dengan pakan dalam keadaan layu atau kering. Namun ada beberapa jenis hijauan yang dalam keadaan segar masih mengandung racun yang membahayakan kehidupan kambing seperti gliricidae, sebaiknya hijauan jenis tersebut dilayukan dulu selama 2-3 jam di sinar matahari atau diinapkan semalam sebelum diberikan pada ternak. Pemberian hijauan yang bervariasi akan memberi dampak yang lebih baik.

Kebutuhan kambing akan bahan pakan sangat tergantung dari kondisi fisiologis kambing tersebut, secara umum kambing membutuhkan hijauan segar sebanyak 10% dari berat badan atau berat hidupnya. Misal beratnya 30 kg maka kambing tersebut membutuhkan 3 kg hijauan/hr. Perlu diketahui bahwa tidak semua bagian hijauan disukai oleh kambing.beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian hijauana yang dicincang sekitar 5-10 cm akan lebih efisien dikonsumsi oleh kambing, karena bentuknya yang kecil-kecil. Contohnya batang muda jika diberikan secara utuh kurang disukai oelh kambing tetapi dengan dicincang akan lebih mudah tercampur dengan jenis pakan yang lain sehingga memungkinkan kambing untuk memakannya.

2. Pemberian konsentrat
Pakan sebagai sumber protein merupakan hal yang mutlak diperlukan oleh kambing yang sedang laktasi, karena proses pembentukan susu membutuhkan suplai protein yang lebih tinggi. Sistem pencernaan rumen seringkali menjadi penyebab kurang efektifnya pemberian konsentrat dengan kadar protein tinggi. Penyebabnya adalah konsentrat tersebut akan diurai atau difermentasi oleh bakteri dan mikroba lain dalam rumen, sehingga pprotein terdegradasi sebelum diserap tubuh. Untuk itu pemberian konsentrat perlu disiasati. Waktu pemberian yang terbaik adalah saat kambing sudah banyak mengkonsumsi hijauan, tetapi belum kenyang. Pada saat itu, rumen akan dipenuhi oleh hijauan, sehingga aktivitas rumen sedang tinggi-tingginya. Pemberian konsentrat saat seperti ini bisa menghindari proses fermentasi bahan pakan dalam rumen sehingga keberadaan zat-zat makanan dapat dipertahankan. Hal ini disebabkan konsentrat tidak terlalu lama berada dalam rumen.

Beberapa bahan konsentrat yang biasa diberikan adalah bekatul, bungkil kedelai, ampas tahu, bungkil kelapa atau campuran dari beberapa konsentrat. Misal 62% bekatul, 20% ampas tahu, 15% bungkil kedelai, 1% garam dapur, dan 2% tepung tulang. Jumlah pemberian sebanyak 0,5- 0,6 kg/ekor dan diberikan dalam bentuk bubur(dicampur dengan air). Usahakan konsentrat agar habis dalam waktu singkat untuk menghindari tumbuhnya jamur yang bias menimbulkan penyakit.

3. Vitamin dan Mineral
Selain bahan pakan sumber protein dan sumber energi, kambing memiliki kebutuhan akan vitamin dan mineral yang sebenarnya bisa tercukupi dengan pemberian pakan yang bervariasi. Jika kurang bervariasi sebaiknya dilakukan pemberian zeolit, garam dapur, atau tepung tulang sebagai sumber mineral dengan dosis tidak lebih dari 5 permil (5/1000) untuk setiap 1 kg berat badan. Vitamin dibutuhkan kambing dalam jumlah sedikit tetapi sangat berpengaruh dalam proses metabolisme dan daya tahan tubuhnya terhadap penyakit. Pemberian garam dapur selain untuk memenuhi kebutuhan mineral dapat juga untuk meningkatkan nafsu makan kambing. Pemberiannya sebaiknya tidak terjadwal, tetapi sudah dalam keadaan tersedia setiap saat di dalam kandang. Penempatannya bisa di dalam ember khusus yang digantung di dekat tempat hijauan setinggi 50-90 cm dr atas lantai.

4. Air

Sebanyak 70% tubuh kambing berupa air. Kekurangan air yang mencapai 20% menyebabkan kambing dehidrasi. Makanya ketersediaan air merupakan suatu hal yang mutlak. Secara umum seekor kambing membutuhkan air sebanyak 1,5-2,5 liter/hari. Sebaiknya air disediakan dalam jumlah yang tidak terbatas artinya jika air di wadahnya tinggal sedkit segera ditambah lagi.

5. Penggunaan UMB (Urea Molasses Block)
UMB mengandung non protein nitrogen (NPN) yang dalam rumen akan mengaktifkan mikroba rumen dan sintesis menjadi asam amino. UMB juga terdiri dari berbagai bahan penyusun lainnya seperti molasses, dedak padi, dan tepung tapioka (sebagai sumber energi), bungkil kedelai (sumber protein), garam dapur, tepung tulang dan kapur (sumber mineral). Pemberian UMB 4 gr/hari/kg berat badan mampu meningkatkan pertambahan berat badan harian kambing dan meningkatkan akseptabilitas kambing terhadap limbah pertanian dengan serat kasar cukup tinggi seperti kulit dan tongkol jagung.

Diterbitkan di:  on April 17, 2008 at 2:55 am Komentar (1)

Probiotik pada Ternak

Tingginya konsumsi makanan dari produk hewani tidak dapat di pungkiri lagi, terutama di negara maju dan negara berkembang. Hal ini disebabkan kandungan gizi yang terkandung dalam makanan yang berasal dari produk hewani lebih banyak dibanding makanan dari produk nabati. Tetapi fakta ini justru menimbulkan ketakutan tersendiri di kalangan konsumen, karena sebagian besar hewan ternak saat ini lebih banyak diberi tambahan pakan yang berupa antibiotik dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi pakan sehingga peternak dapat memperoleh keuntungan, padahal kita semua tahu bahwa kemungkinan antibiotik dapat menimbulkan residu yang akan menjadi racun bagi konsumen yang memakan hasil olahan ternak yang diberi pakan tambahan antibiotik. Selain itu antibiotik dapat menimbulkan mikroorganisme yang resisten dalam tubuh manusia atau ternak terutama bakteri patogen seperti Salmonella dan E. coli. Penggunaan antibiotik akan diserap di dalam usus sehingga meningglakan residu yang berbahaya bagi konsumen.

Untuk menghindari hal tersebut maka probiotik direkomendasikan untuk mengganti penggunaan antibiotik pada pakan ternak. Karena selain aman probiotik juga mengandung komponen-komponen yang dapat membantu meningkatkan kesehatan ternak dengan cara manipulasi komposisi bakter. Probiotik juga merupakan bahan pakan tambahan yang dapat memicu peningkatan pertumbuhan bakteri yang menguntungkan bagi ternak. Probiotik merupakan mikroorganisme menguntungkan yang dapat bertahan hidup dalam saluran pencernaan yang penggunaannya dapat menggantikan peran antibiotik. Sebenarnya probiotik secara komersial sudah dipasarkan sejak tahun 1950 an tetapi belum menggunakan nama probiotik

Diterbitkan di:  on Maret 9, 2008 at 6:40 am Tinggalkan sebuah Komentar

Solid Non Fat

Solid Non Fat (SNF) sering disebut Bahan Kering Tanpa Lemak (BKTL) atau zat padat bukan lemak adalah kadar bahan kering dikurangi kadar lemak dalam susu dan terdiri dari laktosa, protein, dan mineral (Amin, 1997). Sebagian zat yang menyusun SNF disintesa dalam kelenjar susu dari ikatan zat-zat pakan yang diserap dari darah. Zat tersebut antara lain karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Korelasi antara SNF sangat nyata dengan berat jenis susu, semakin tinggi kadar SNF maka berat jenis susu akan semakin besar atau sebaliknya.

Umumnya kualitas susu hanya dilihat dari kadar lemak, namun nilai yang sebenarnya terletak pada kandungan SNF di dalamnya. Kebuntingan pada ternak mempunyai pengaruh tidak langsung terhadap produksi dan komposisi susu. terjadi sedkit peningkatan bahan kering susu selama kebuntingan 4-5 bulan. Perubahan bahan kering dan protein susu lebih banyak disebabkan oleh pengaruh pakan yang menyebabkan peningkatan produksi asam propionat dalam rumen (Sudono, 1983). Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya SNF susu tergantung dari faktor-faktor yang mempengaruhi kadar bahan kering susu dan kadar lemak susu.

Penetapan Total Bahan Padat (Total Solid/TS dan Solid Non Fat/SNF)

Uji ini merupakan salah satu pengujian untuk menentukan komposisi susu (test for composition)

A. Tujuan: Untuk menetapkan kadar bahan padat dalam susu

B. Teori: Yang termasuk bahan padat dalam susu (total solid) adalah protein, lemak, karbohidrat, mineral dan vitamin. Sedang bahan padat bukan lemak (solid non fat/snf) adalah semua jumlah prosentase semua komponen susu dikurangi kadar air dan kadar lemaknya. Dikenal dua macam cara pengujian kadar bahan padat dalam susu, pertama cara Penimbangan / Gravimetric method, kedua cara densitas susu/Lactometric method. Dalam pedoman ini akan diterangkan penetapan cara gravimetric

C. Bahan & Alat:

1. Cawan aluminium atau petridish

2. Oven listrik

3. Desikator

4. Timbangan Analitik

5. Pippet

D. Cara Kerja :

  • Cawan beserta tutupnya dimasukan dalam oven dan dipanaskan sampai suhu 105 o C selama 1 jam
  • Masukan cawan panas kedalam desikator hingga dingin
  • Timbang cawan kosong tersebut, catat beratnya (w 1 )
  • Sampel Susu ditimbang sebanyak 1 – 2 gram (w 2 )
  • Kemudian cawan w1 yang telah diisi sampel dipanaskan dalam oven pada suhu 105 o C selama 1 jam
  • Timbang cawan dan residu susu , catat beratnya (w 3 )

W3 - (W 2 + W1 )

TS = ————————————-x 100%

W 2

SNF = TS - F (kadar lemak)

Diterbitkan di:  on Maret 4, 2008 at 6:45 am Tinggalkan sebuah Komentar

Susu sapi

Sapi perah adalah salah satu hewan ternak penghasil susu. Tingginya produksi susu yang dihasilkan mampu mensuplai sebagian besar kebutuhan susu di dunia dibanding jenis hewan ternak penghasil susu yang lain seperti kambing, domba dan kerbau, maka dari itu sapi perah mempunyai kontribusi besar terhadap pemenuhan kebutuhan susu yang terus meningkat dari tahun ketahun.

Susu adalah bahan makanan yang mempunyai kandungan gizi cukup tinggi karena mengandung zat makanan seperti vitamin, protein, lemak, karbohidrat dan mineral yang sangat dibutuhkan bagi kesehatan. Tetapi perlu diingat pula bahwa susu merupakan media yang sangat mudah untuk tempat berkembangnya mikroorganisme, sehingga keberadaan mikroorganisme dalam susu dapat dengan mudah merusak komposisi susu sehingga membahayakan kesehatan seseorang yang mengkonsumsi susu tersebut seperti terjadi baru-baru ini adanya susu beracun yang beredar di pasaran.

resize-of-502463512_0d46b85f7f.jpg

Produksi dan komposisi susu yang dihasilkan sapi perah dipengaruhi oleh banya faktor antara lain :

  • Jenis ternak dan keturunannya. Jenis ternak sangat bepengaruh terhadap produksi dan komposisi susu yang dihasilkan. Misalnya susu yang dihasilkan oleh sapi perah berbeda dengan susu yang dihasilkan oleh kambing atau domba baik dari segi jumlah produksi maupun komposisi susu. Tidak hanya jenis ternak saja, keturunan yang berbeda juga sangat berpengaruh, bisa jadi susu yang dihasilkan dari jenis sapi perah yang sama tetapi dari keturunan yang berbeda akan berbeda pula jumlah produksi dan komposisi yang terkandung dalam susu.
  • Tingkat laktasi. Setiap tingkat laktasi produksi dan komposisi susu akan mengalami perubahan. Perubahan terbesar akan terjadi pada permulaan dan terakhir periode laktasi.
  • Umur ternak. Biasanya puncak produksi susu terjadi pada saat umur 8-10 tahun, walaupun pada umur 5-6 tahun produksi susu juga sudah mulai meningkat. Umur ternak erat kaitannya dengan periode laktasi. Sehingga dapat dilihat pada permulaan laktasi pasti produksi susu lebih tinggi dibanding pada saat akhir laktasi.
  • Kesehatan Ambing. Kesehatan ambing perlu diperhatikan oleh para petrnak. Karena ambing adalah alat vital yang sangat berpengaruh terhadap produk susu yang dikeluarkan. Kebanyakan kasus yang terjadi adalah produksi susu akan menurun dan komposisi susu akan berubah drastis akibat peradangan yang terjadi pada ambing atau yang biasa disebut “Mastitis”
  • Pakan/nutrisi. Pakan yang terlalu banyak konsentrat menyebabkan kadar lemak susu menjadi rendah, sedangkan jenis pakan dari hijauan yang berupa rumput-rumputan yang dapat menaikkan kadar lemak yang terkandung dalam susu. Pemberiaan air pada sapi perah juga penting untuk menunjang kelangsungan hidup dan produksi susu karena susu 87 % terdiri dari air dan 50 % dari tubuh sapi juga terdiri dari air. Air yang dibutuhkan untuk seekor sapi sekita 37-45 liter/hari.
  • Lingkungan. Biasanya pada musim hujan produksi susu akan meningkat karena adanya ketersediaan pakan yang lebih dibanding musim kemarau, kandungan lemak susunya juga akan meningkat, sedangkan pada musim kemarau kandungan lemak susu akan cenderung lebih rendah. Suhu dan kelembaban lingkunga juga mempengaruhi produksi susu. Pada lingkungan yang tingkat kelembabannya tinggi sangat beresiko akan timbulnya infeksi bakteri yang akhirnya menyebabkan mastitis pada ambing. Suhu lingkungan yang tinggi akan menurunkan konsumsi pakan yang dapat berpengaruh pada menurunnya produksi susu tetapi belum jelas apah hal tersebut juga berpengaruh terhadap komposisi susu yang dihasilkan.
  • Prosedur pemerahan. Jumlah pemerahan, lama pemerahan, dan waktu pemerahan juga sangat berpengaruh terhadap produksi dan komposisi susu. Pemerahan yang dilakukan pada pagi hari akan mendapatkan susu dengan komposisi yang sedikit berbeda dengan susu hasil pemerahan pada sore hari.

Komponen-komponen yang terdapat dalam susu :

  • Air. Air adalah komponen terbesar karena 87 % dari keseluruhan komponen susu terdiri dari air. Air tersebut sebagian dihasilkan dari air yang diminum oleh sapi setiap harinya.
  • Lemak. Kadar lemak normal yang terkandung dalam susu berkisar 3,45 . Kadar lemak sangat menentukan nilai gizi dari air susu. Bahan makan olahan dari susu yang banyak mengandung unsur lemak adalah : keju, mentega, krim, susu kental manis dan susu bubuk. Berat jenis susu berada pada kisaran 0,93 dan lebih ringan dari berat jenis air. Hal ini menyebabkan lemak akan mengapung dan membentuk lapisan di permukaan air susu apabila air susu didinginkan.
  • Protein. Kadar protein dalam susu rata-rata sekitar 3,20 % , karena 26,50 % dari bahan kering susu adalah protein. Protein dalam air susu juga merupakan penentu kualitas air susu sebagai bahan yang layak untuk dikonsumsi.
  • Laktosa. Laktosa adalah bentuk karbohidrta yang terdapat dalam susu. Bentuk ini tidak terdapat dalam bahan makanan yang lain. Kadar laktosa dalam susu adalah 4,60 %. Laktosa terbentuk dari glukosa dan galaktosa, laktosa itulah yang membuat rasa susu menjadi sedikit manis.
  • Vitamin dan enzim. Kadar vitamin dalam susu tergantung dari pakan yang diberikan pada sapi setiap harinya dan waktu laktasinya. Vitamin diukur dengan satuan Internasional Unit (IU). Vitamin yang larut dalam susu termasuk vitamin B komplek, vitamin C, vitamin A, provitamin A, vitamin D, dan yang terpenting adalah vitamin B1 dan B2, asam nikotinat dan asam pantotenat. Enzim berfungsi untuk mengolah susu menjadi bahan lain . enzim yang terkenal antara lain : peroxydase, reductase, katalase dan phospatase. Adanya pemanasan menyebabkan enzim tidak berfungsi lagi.
Diterbitkan di:  on Februari 28, 2008 at 5:23 am Tinggalkan sebuah Komentar

sapi lagi…sapi lagi…

Sapi adalah salah satu jenis hewan ternak. Selain dipelihara untuk bercocok tanah (menarik bajak, dan lain-lain), sapi juga diambil susu dan dagingnya. Tapi jangan keliru dengan SAPI (Singapore Association of Pharmaceutical Industries) bisa gaswat ntar… hehe! Ada sedikit pengetahuan penting ne :) . Jenis sapi ada beberapa macam. Jenis sapi potong yang biasa di pelihara oleh peternak antara lain : sapi Bali, sapi Madura, sapi Ongole, sapi PO (Peranakan Ongole), sapi Charolois, sapi Hereford, sapi Brangus dll. Sedangkan jenis sapi perah yang biasa di pelihara adalah Friesian Holland atau Peranakan Friesian Holland (PFH), sapi Jersey, sapi Guermey, sapi Ayrshire dan  sapi Brown Swiss

Dalam hal ini team qta cenderung jadi pengasuh jenis sapi perah PFH makanya qta jadi akrab banget dengan makhluk Allah yang satu ini

sapi-argasari.jpg

  1. Ciri-ciri sapi Friesian Holland adalah :
  • Warna bulu putih dengan bercak hitam (belang hitam putih).
  • Berasal dari Belanda
  • Berat badan betina dewasa 625 kg dan jantan 900 kg.
  • Pembawaan betina tenang dan jinak sedangkan jantan agak ganas.
  • Daya merumput (Grazing ability) hanya baik pada pasture yang baik saja.
  • Dewasa kelamin sapi FH agak lambat, umur pertama kali dikawinkan 15 – 18 bulan.
  • Produksi susu relatif lebih tinggi dibandingkan sapi perah lainnya tetapi kadar lemak susunya relatif rendah yaitu sekitar 3,5 – 3,7 %

2.   Ciri- ciri sapi Jersey

  • Berwarna coklat muda, tetapi adapula yang berwarna hampir putih atau kuning, biasanya yang jantan berwarna lebih tua dari sapi betina.
  • Berasal dari Inggris
  • Sifatnya tidak tenang sehingga mudah terganggu dengan perubahan yang terjadi di sekitarnya
  • Lebih tahan panas
  • Termasuk bangsa sapi perah kecil dengan bentuk badfan yang lebih bagus dibanding dengan jenis sapi perah yang lain.

3.  Ciri-ciri sapi Guermey

  • Berwarna kuning tua dengan belang putih yang umumnya terdapat pada bagian muka, sisi perut dan pada bagian kaki.
  • Tanduk menjurus ke atas dan agak condong ke depan dan berukuran sedang.
  • bersifat lebih tenang dari sapi Jersey, tetapi tidak setenang sapi Friesian Holland.
  • Bentuk badan menyerupai sapi Jersey tetapi lebih besar dibanding sapi Jersey

4.  Ciri-ciri Sapi Ayrshire

  • Berasal dari Scotlandia
  • Berwarna belang merah atau belang coklat putih.
  • Tanduk agak panjang menjurus ke atas dengan posisi agak lurus dengan kepala.
  • Sifatnya agak tenang.
  • Lebih besar dari sapi Jersey, lebih kecil dari sapi FH.
  • Pandai merumput di padang rumput.

5.  Ciri-ciri sapi Brown Swiss

  • Berasal dari Switzerland
  • Berwarna coklat ke abu-abuan tetapi pada umumnya berwarna coklat
  • Hidung dan bulu ekornya berwarna hitam.
  • Ukuran badan dan tulang cukup besar hampir sama dengan FH.
  • Sifatnya jinak dan mudah dipalihara.
  • Produksi susunya dibawah sapi FH.

Sebagai pengasuh maka qta perlu memperhatikan pakan sapi perah asuhan qta, supaya ga dimarahi ma majikan yang mempekerjakan qta (dah sukur ada yang mau mempekerjakan ) Pakan sapi perah pada umumnya dibagi tiga :

  • Hijauan : Rumput – rumputan : Rumput gajah ( Pennisetum purpureum), Rumput Raja (King grass), setaria, Benggala (Pennisetum maximum), rumput lapang dan BD (Brachiaria decumbens), Kacang-kacangan : Lamtoro, turi, gamal.
  • Konsentrat : Dedak, bunkil kelapa,bungkil kacang tanah, jagung kedelai.
  • Limbah pertanian : Jerami padi, jerami jagung, jerami kedelai, dll.

Pakan yang diberikan kepada sapi perah secara umum berupa hijauan 60 % dari BK (berat kering) dan 40 % Konsentrat. Dalam hal ini hijauan yang digunakan 75 % rumput alam .

kerja-bakti.jpg

Lihatlah bagaimana team qta bekerja keras sampe2 semua ga da bentuknya hehehe… :) Ayo pren semangaaaaaaaaaaaaaaat………………… Dah dulu ah nyambung bsok lagee yah…..

Diterbitkan di:  on Februari 12, 2008 at 8:49 am Komentar (1)